03 Juni 2009

Rachman Gagal Bikin Sejarah


Kesempatan Muhamad Rachman mencetak sejarah sebagai petinju Indonesia pertama yang menjadi juara dunia kelas terbang mini versi WBC pupus. Lewat pertarungan berdarah melawan petinju tuan rumah sekaligus juara bertahan Oleydong Sithsamerchai di Bangla Boxing Stadium, Phuket, Thailand, Jumat (29/5), Rachman dinyatakan kalah angka.
Hasil itu sangat disayangkan karena tahun ini usia Rachman sudah mencapai 38 tahun. Namun, pujian tetap diberikan masyarakat Phuket kepada petinju yang pernah menyabet predikat juara dunia versi IBF tersebut.
’’Pertandingan sangat ketat dan seru. Bahkan, penonton tak menyangka jika usia Rachman sudah 38 tahun,’’ ujar Martinez Dos Santos, manajer Rachman, melalui sambungan internasional tadi malam.
Menurut dia, Rachman tampil mendominasi di ronde pertama dengan mengandalkan serangan-serangan jarak dekat. Strategi itu memang lebih menguntungkan karena lawan memiliki postur yang lebih tinggi.
Selain itu, lawan memang jauh lebih muda. Oleydong pun memiliki track record yang cukup bagus. Dari 30 pertandingan, dia belum pernah kalah. Dia petinju kidal bergaya counter boxer dan lebih mengandalkan pukulan lurus (straight) kiri.
Memasuki ronde kedua, Oleydong mulai membalikkan keadaan. Dia lebih banyak mengandalkan tandukan. Rupanya, strategi Rachman terbaca.
Nah, pada ronde ketiga, tandukan Oleydong membentur kepala Rachman hingga alis mata kirinya robek. Kondisi itu tak membuat Rachman menyerah. Dia masih tampil fight di ronde berikutnya.
Namun, pada ronde ketujuh, Oleydong kembali menanduk Rachman. Kali ini, alis mata kanan Rachman robek. Tindakan itu membuat Oleydong diganjar pengurangan nilai karena dinilai tak sportif.
Tapi, hukuman itu tak membuat Oleydeng jera. Dia kembali menanduk Rachman pada ronde ke-11. Lagi-lagi tandukan itu mengenai alis mata kanan Rachman. Akibatnya, luka pada alis mata kanan Rachman kian lebar, sehingga membutuhkan perawatan dokter. Tapi, dia menolak mendapatkan jahitan pada luka-lukanya.
Karena kejadian itulah, dokter menyatakan berbahaya jika pertandingan dilanjutkan. Wasit pun memutuskan menghentikan pertandingan. Akhirnya, wasit menyatakan technical decision dan Rachman dinyatakan kalah angka.
’’Secara keseluruhan, kami puas dengan hasil tersebut, meski Rachman sedikit kecewa. Dia yakin jika pertandingan dilanjutkan kemenangan bisa diperoleh,’’ terang Martinez. ’’Rachman nggak asal ngomong. Di ronde kesembilan saja, lawan sudah sempoyongan setelah mendapatkan uppercut perut dari Rachman,’’ imbuhnya.
Terkait usia Rachman yang telah mencapai 38 tahun, Martinez tidak bisa memberikan kepastian kelanjutan karir petinju asal Blitar tersebut. Rachman pun belum memberikan jawaban masih mau terus atau pensiun. ’’Kami akan membicarakannya di tanah air nanti,’’ tukas Martinez.
Hari ini, Rachman akan menuju Bangkok. Menurut rencana, pada Minggu sore (31/5), Rachman tiba di Bandara Juanda, Surabaya.

26 Mei 2009

Rachman Cuma Didampingi Istri

Keberangkatan Muhammad Rachman ke Thailand Minggu lalu (24/5) cukup mengenaskan. Tidak ada pengurus atau badan tinju di Jawa Timur yang melepas keberangkatannya ke Negeri Gajah Putih tersebut. Padahal dia akan merebut juara dunia kelas terbang mini WBC melawan juara bertahan Olyedong Sithsamerchai dari Thailand pada Jumat nanti (29/5). Ke Negeri Gajah Putih dia hanya didampingi istri tercintanya, Ninik Eko Widiarsih.
Rachman dan Ninik tampak begitu mesra ketika bertolak ke Thailand dari Bandara Juanda, Surabaya. ’’Dia (Ninik, Red) adalah motivasi terbesar bagi saya di atas ring. Saya juga meminta doa dari masyarakat Indonesia agar bisa pulang gelar juara dunia,’’ katanya kepada Jawa Pos kemarin.
Menjelang keberangkatan, lagi-lagi Rachman menegaskan peluangnya untuk kembali menjadi juara dunia, meski usianya sudah mencapai 38 tahun. Menurut dia, power, speed, serta staminanya telah berada di titik optimal. ’’Semua persiapan telah optimal. Berat badan serta kesehatan saya masih normal. Saya optimistis bisa mengibarkan bendera Merah Putih di sana,’’ ujarnya.
Dia menyatakan telah memetakan kekuatan lawan. Karena itu, dia yakin bisa memberikan perlawanan terbaik. ’’Dia (Sithsamerchai, Red) hanya mengandalkan contra boxing. Artinya, dia tidak akan memukul selama lawan tidak memukul,’’ jelasnya.
Rachman berencana menggunakan gaya contra fighter. Dia juga akan aktif melancarkan jab-jab keras. ’’Saya akan terus menyerang serta mengejar dari ronde ke ronde. Jika ada peluang, baru saya akan melancarkan pukulan mematikan,’’ ungkapnya.
Meski telah mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, dia tidak mau meremehkan lawan. Menurut dia, Sithsamerchai juga telah melakukan persiapan khusus. Makanya, dia tidak berani memberi garansi batas ronde untuk menjatuhkan lawan. Yang terpenting adalah memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan.

18 Mei 2009

Irfan Ogah Kalah Lagi di Thailand

Lawatan Irfan Ogah ke Thailand kembali berujung kekalahan. Kali ini, petinju Sasana Pirih Surabaya tersebut dipaksa mengakui ketangguhan Thanthong Kiataweesuk dalam laga non-gelar kelas bantam 53,5 kg di Bangkok, Thailand Jumat lalu (15/5).
Ogah dinyatakan kalah TKO pada ronde ketiga. Keputusan tersebut mendapat reaksi keras dari pelatih Sasana Pirih Maudafar Danu. Menurut Mudafar, keputusan menghentikan laga pada ronde ketiga salah besar.
’’Sebetulnya tidak perlu dihentikan. Sebab, Ogah tidak mengalami apa-apa,” terang Mudafar (16/5).
Lagi-lagi, kubu Sasana Pirih mengkambing hitamkan wasit sebagai biang keladi kekalahan Ogah. Menurut Mudafar, wasit yang memimpin laga tersebut tidak mampu bertugas dengan netral.’’Wasit berat sebelah. Dia terlihat sekali kalau membantu petinju tuan rumah,” kecam Mudafar.
Kekalahan tersebut menjadi kekecewaan kedua bagi Ogah. Sebab, sebelumnya, dia harus mengubur impian untuk berlaga di kejuaraan perebutan gelar juara IBF PAN Pacific kelas bantam. Penyebabnya, petinju asal Jember tersebut mengalami kelebihan berat badan sebanyak 1 kg.
’’Ya, Ogah memang overweight 1 kg. Jadi, dia tidak akan bermain di kejuaraan. Pertandingannya hanya partai biasa,” ungkap Mudafar sebelum pertandingan.
Dengan kegagalan tersebut, daftar kekalahan Ogah selama bermain di Negeri Gajah Putih semakin panjang. Dalam tiga kali lawatannya, petinju 23 tahun tersebut belum juga memetik kemenangan. Terakhir, Ogah dipermalukan Saensaknoi Ormuangklang Februari lalu. Padahal, sebelumnya, Mudafar optimistis anak asuhnya mampu memetik kemenangan. Persiapan yang panjang serta kesiapan teknik Ogah membuat optimisme Mudafar melambung.

16 April 2009

Eddy Pirih Berpulang

Tokoh tinju Surabaya, Jawa Timur dan nasional, Eddy Pirih, Kamis (16/4) meninggal dunia. Pendiri Sasana Pirih tersebut sebelum dikremasi Minggu depan (19/4) disemayamkan di Kamar M, Adi Jasa, Jalan Demak Surabaya.
Seluruh pengurus KTI (komisi Tinju Indonesia) Jawa Timur merasa kehilangan atas meninggalnya Eddy Pirih. Sekum KTI Jatim dan dokter KTI dr Eddy Herman yang memberikan penghormatan terakhir di Adi Jasa mengakui jasa Eddy Pirih sangat besar di Jawa Timur. ’’Kita Kehilangan tokoh panutan dalam pembinaan tinju pro nasional,’’ kata Eddy Herman.

05 April 2009

Tomy-Amir Menang, Basez Seri

Tomy Seran dan La Amir Laila menjaga martabatnya sebagai petinju pro. Petinju Sasana Rokatenda, Sidoarjo itu berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dalam laga non gelar Sabtu malam (4/4).
La Amir menang knock out (KO) pada ronde ketiga atas Yakub (sasana Inra Surabaya) dalam laga di kelas bulu junior 55,3 kg di Buton, Sulawesi Tenggara. Hasil tersebut menghapus catatan buruk Amir di laga sebelumnya.
Sebab, di dua laga terakhirnya, petinju berusia 30 tahun tersebut harus mengakui lawan-lawannya. Terakhir, dia dikalahkan Marangin Marbun (Sasana Sragen, Jawa Tengah) pada Minggu (8/2) silam. Selain itu, kemenangan tersebut membuktikan bahwa dirinya masih cukup bertaji di usia yang menapaki kepala tiga.
’’Penampilan Amir sangat jauh berbeda dibandingkan pada saat dirinya menghadapi Marbun. Kali ini dia bermain sangat bagus. Pukulannya sangat mematikan,” terang Yani Malhendo, pelatih Sasana Rokatenda kemarin (5/4).
Tomy Seran tak mau kalah. Petinju 25 tahun tersebut berhasil mengalahkan Alfon Tobing (Amarasi BC Jakarta) di Studio 5 TVRI, Jakarta dengan kemenangan angka mutlak. Padahal, beban yang disandang Tomy termasuk berat.
Tiga hakim juri seluruhnya memberikan nilai kemenangan kepada Tomy. Hakim A (Rocky Joe) memberikan nilai 79-73, hakim B (Alfon Sihombing) menghadiahi 78-73 dan hakim C (Philipus Elungan) memberikan angka 76-75.
Dalam pertandingan tersebut, dia dituntut harus mengalahkan Tobing. Sebab, jika Tomy menderita kalah KO atau TKO, maka sabuk juara nasional versi Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) bakal hilang dari genggamannya.
’’Yang penting, Tomy bisa menjaga gelar yang sudah direbutnya,” tegas Yani Malhendo.
Sayangnya, kegemilangan dua petinju tersebut tak diikuti Julio de la Basez. Dia harus puas dengan hasil draw saat menghadapi Simon Butar-Butar (Sasana Demokrat) dalam laga kelas ringan junior 58,9 kg di Buton.
Kegagalan tersebut membuat ambisi Basez untuk meneruskan tren positifnya terhenti. Di laga sebelumnya, Basez, sanggup memetik kemenangan atas M. Afrizal Sabtu lalu (28/2).
’’Pada ronde ketiga, pelipis Basez robek dan terus mengeluarkan darah. Juri langsung memutuskan untuk menghentikan pertandingan tersebut,” ungkap Yani.

Wasit Asal Surabaya Pimpin Kejuaraan IBF


Wasit tinju internasional asal Surabaya Muhammad Rois kembali dipercaya badan tinju dunia versi IBF. Guru SMP 36 Surabaya itu akan bertugas sebagai salah seorang hakim dalam pertandingan kejuaraan dunia kelas terbang junior versi IBF antara Ulises Solis dari Meksiko melawan Brian Viloria dari Amerika Serikat.Pertandingan itu akan dilangsungkan di Araneta Coliseum Quezon City, Metro Manila, Filipina, pada 19 April. Rois akan berangkat ke Filipina pada 16 April melalui Surabaya dan pindah pesawat di Jakarta untuk menuju Filipina. ’’Pertandingan ini digelar oleh Angie Jackson dari Top Rank Inc. Saya mohon doa restu masyarakat tinju Indonesia agar bisa melaksanakan tugas dengan baik dan benar sesuai peraturan yang berlaku,’’ kata Rois.

02 April 2009

Menanti Aksi Basez, Amir dan Tomy Seran

Tiga petinju Sasana Rokatenda, Sidoarjo, bakal mempertaruhkan namanya pada Sabtu (4/4). Mereka adalah La Amir Laila, Julio Basez, dan Tomy Seran.
La Amir, misalnya. Menghadapi Yakub (Sasana Inra Surabaya) di kelas bulu junior 55,3 kg dalam laga nongelar di Buton, Sulawesi Tenggara, dia akan mencoba memperbaiki catatan rekornya. Sebab, dalam dua laga terakhir, dia harus mengakui ketangguhan musuh-musuhnya.
Terakhir, Amir kalah angka saat bersua Marangin Marbun (Sasana Sragen, Jawa Tengah), Minggu (8/2). ’’Amir sudah menunjukkan kemajuan yang cukup baik. Dia tidak lagi terlalu kaku saat bertanding,’’ ungkap Yani Malhendo, pelatih Sasana Rokatenda, setelah latihan rutin kemarin (31/3).
Tapi, ambisi Amir untuk memperbaiki track record-nya tidak mudah. Sebab, dia harus menghadapi ’’musuh’’ yang lain. Yaitu, usianya yang sudah tergolong senja, 30 tahun. Dengan usia yang tak lagi muda, kekuatan Amir untuk terus bertanding secara konsisten selama delapan ronde bisa dipertanyakan.
’’Usia memang sangat memengaruhi. Tapi, kami siasati dengan terus menggenjot fisiknya. Yang pasti, kami harus menutupi kelemahan yang ada dengan kekuatan kami,’’ tegas Yani.
Dua kekalahan Amir juga ditengarai akibat usianya yang tidak lagi muda. Sebab, saat itu dirinya harus berjibaku kontra petinju-petinju yang umurnya jauh di bawah dirinya. So, tenaganya cepat terkuras.
Beban untuk menunjukkan kapasitas juga dipikul Julio Basez. Tampil memukau dengan mengalahkan M. Afrizal dalam debutnya setelah lama absen dari dunia tinju Sabtu (28/2), Basez harus bersua Simon Butar-Butar (Sasana Demokrat) dalam laga kelas ringan junior 58,9 kg, juga dalam laga nongelar di Buton. Basez pun berharap bisa meneruskan catatan positif tersebut.
’’Untuk Basez, mungkin ada sedikit pengecualian. Kemampuannya masih bisa diandalkan, meski kelenturannya tak sebaik dulu lagi. Tapi, untuk menang, memang tak semudah membalik telapak tangan,’’ tegas pelatih asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), tersebut. Sementara Tomy Seran akan menghadapi Tobing (Demokrat) dalam pertandingan non gelar di Jakarta.